Narkoba Di Kalangan Mahasiswa
Pada kesempatan ini
saya akan membahas tentang “Narkoba Di kalangan Mahasiswa”. Sebanyak 22%
pengguna narkoba di indonesia rata-rata adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
Lemahnya pengawasan orang tua serta labilnya psikologi remaja membuat mereka
mudah terjerumus menggunkan narkotika. Usia remaja dan mahasiswa rentan
terpapar narkotika karena belum mencapai tingkat kematangan memadai. Karena cenderung
labil, kelompok pelajar dan mahasiswa kerap menjadi pasar empuk bagi pengedar.
Meski termasuk golongan yang belum mandiri secara
finansial, remaja dinilai kerap melakukan tindakan nekat jika sudah masuk ke
tahap pecandu berat. Hal itu membuat praktik penyalahgunaan narkotika di
kalangan mahasiswa kerap terkait dengan tindakan kriminal seperti pemalakan,
penjambretan hingga pencurian. Biasanya anak-anak dari keluarga yang cukup
mampu tetapi kominikasinya kurang baik dengan orang tua, jadi perkembangan anak
sulit diawasi
Dampak
Negatif Penyalahgunaan Narkoba
Dampak negatif penyalahgunaan narkoba terhadap anak atau remaja (pelajar) adalah sebagai berikut:
- Perubahan dalam sikap, perangai dan kepribadian,
- sering membolos, menurunnya kedisiplinan dan
nilai-nilai pelajaran,
- Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah,
- Sering menguap, mengantuk, dan malas,
- tidak memedulikan kesehatan diri,
- Suka mencuri untuk membeli narkoba.
- Menyebabkan Kegilaan, Pranoid bahkan Kematian !
Upaya
Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan mahasiswa, menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua pihak termasuk orang tua, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam mewaspadai ancaman narkoba terhadap remaja.
Ada
tiga hal yang harus diperhatikan ketika melakukan program anti narkoba di kampus.
Yang pertama adalah dengan mengikutsertakan keluarga. Banyak penelitian telah
menunjukkan bahwa sikap orangtua memegang peranan penting dalam membentuk
keyakinan akan penggunaan narkoba pada remaja. Strategi untuk mengubah sikap
keluarga terhadap penggunaan narkoba termasuk memperbaiki pola asuh orangtua
dalam rangka menciptakan komunikasi dan lingkungan yang lebih baik di rumah.
Kelompok dukungan dari orangtua merupakan model intervensi yang sering
digunakan.
Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan pesan yang jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di kampus. Anak-anak remaja harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak.
Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak remaja. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang deasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh.
Kedua, dengan menekankan secara jelas kebijakan tidak pada narkoba. Mengirimkan pesan yang jelas tidak menggunakan membutuhkan konsistensi sekolah-sekolah untuk menjelaskan bahwa narkoba itu salah dan mendorong kegiatan-kegiatan anti narkoba di kampus. Anak-anak remaja harus diberikan penjelasan yang terus-menerus diulang bahwa narkoba tidak hanya membahayakan kesehatan fisik dan emosi namun juga kesempatan mereka untuk bisa terus belajar, mengoptimalkan potensi akademik dan kehidupan yang layak.
Terakhir, meningkatkan kepercayaan antara orang dewasa dan anak-anak remaja. Pendekatan ini mempromosikan kesempatan yang lebih besar bagi interaksi personal antara orang deasa dan remaja, dengan demikian mendorong orang dewasa menjadi model yang lebih berpengaruh.
Oleh sebab itu, mulai saat ini pendidik, pengajar, dan orang tua, harus sigap serta waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat menjerat anak-anak sendiri. Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari kita jaga dan awasi anak didik dari bahaya narkoba tersebut, sehingga harapan untuk menelurkan generasi yang cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik.
Upaya Menanggulangi
Penyalahgunaan Narkoba
Upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba dapat
dilakukan melalui beberapa cara, sebagai berikut ini :
Preventif
(pencegahan), yaitu untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan
dankekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik dari pada
pemberantasan.Pencegahan penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan dengan berbagai
cara, seperti pembinaan dan
pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah
danmasyarakat, pengajian oleh para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan
malam oleh pihak keamanan, pengawasan distribusi obat-obatan ilegal dan
melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau
meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan Narkoba.
Represif
(penindakan), yaitu menindak dan memberantas penyalahgunaan narkoba
melalui jalur hukum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat
keamanan yang dibantu olehmasyarakat. Kalau masyarakat mengetahui harus segera
melaporkan kepada pihak berwajib dantidak boleh main hakim sendiri.
Kuratif (pengobatan),
bertujuan penyembuhan para korban baik secara medis maupun denganmedia lain. Di
Indonesia sudah banyak didirikan tempat-tempat penyembuhan dan
rehabilitasi pecandu narkoba seperti Yayasan Titihan Respati,
pesantren-pesantren, yayasan Pondok BinaKasih dll.d. Rehabilitatif
(rehabilitasi), dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban
tidak
kambuh kembali “ketagihan” Narkoba. Rehabilitasi
berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali ke
masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan
para korban Narkoba yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka tidak
terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba.
Comments
Post a Comment